[Cerita Di Balik Lagu] Rintik Sunyi: Sebuah Janji yang Larut dalam Hujan
Hujan di desa ini punya aromanya sendiri. Campuran antara tanah basah, genteng tanah liat tua, dan aroma kenangan yang memaksa masuk lewat celah jendela.
Sore itu, langit berwarna abu-abu pekat. Di sebuah rumah kayu tua, Pak Aryo duduk diam di kursi goyangnya yang berderit pelan. Di tangannya, segelas kopi hitam masih mengepulkan asap, satu-satunya kehangatan yang tersisa di ruangan yang mulai meremang itu.
Matanya tidak melihat ke arah kopi, melainkan menembus kaca jendela yang buram oleh embun. Di luar sana, air jatuh menghantam dedaunan pisang, menciptakan irama yang tak beraturan. Bagi kebanyakan orang, itu hanyalah suara hujan. Tapi bagi Pak Aryo, itu adalah "Tintis"—tetesan rindu yang satu per satu mengetuk pintu hatinya.
Jejak Sepia di Jalan Desa
Setiap kali hujan turun sederas ini, ingatan Pak Aryo selalu terlempar mundur ke masa lalu.
Dalam kepulan asap kopi, ia seolah melihat bayangan dua orang muda-mudi berjalan di jalan setapak desa itu. Langit saat itu cerah, secerah tawa mereka. Tangan mereka saling menggenggam erat, seolah takut dunia akan memisahkan. Ada janji yang terucap di sana, di bawah pohon beringin yang kini sudah ditebang.
"Kita akan selalu bersama, kan, Mas?"
Suara itu masih terdengar jelas, menembus gemuruh petir yang menyambar di kejauhan. Namun, janji tinggallah janji. Seperti angin kencang yang kini meniup gorden jendela Pak Aryo hingga tersingkap, takdir datang tanpa permisi dan memporak-porandakan segalanya.
Mengalir Pilu
Pak Aryo menghela napas panjang. Ia melihat ke arah parit di depan rumah. Air keruh mengalir deras, menyeret daun-daun kering tanpa ampun. Begitulah waktu memperlakukan kenangan.
Ia menoleh ke dinding kayu di sebelah kirinya. Sebuah bingkai foto hitam putih tergantung miring di sana, sedikit berdebu. Wajah di foto itu tersenyum abadi, tak pernah menua, sementara Pak Aryo kini telah dipenuhi kerutan.
Lagu "Rintik Sunyi" lahir dari momen seperti ini. Momen ketika kita menyadari bahwa sunyi bukanlah sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah ruang kosong yang ditinggalkan oleh seseorang yang pernah sangat berarti.
Menulis untuk Menerima
Perlahan, Pak Aryo meletakkan kopinya. Ia mengambil sebuah buku harian bersampul kulit yang sudah usang dari laci meja. Dengan pena tua yang tintanya kadang macet, ia mulai menulis.
Bukan, ia tidak menulis untuk mengeluh. Ia menulis untuk berdamai.
Seperti lirik lagu yang mengalun mendayu, "Kembalilah ke sunyi, menunggu...", Pak Aryo sadar bahwa menunggu tidak selamanya tentang mengharapkan kepulangan fisik. Menunggu bisa berarti menjaga ruang di hati tetap bersih, ikhlas menerima bahwa beberapa orang hanya ditakdirkan untuk menjadi bagian dari sejarah, bukan masa depan.
Ia menutup buku itu perlahan. Lampu minyak di sudut ruangan ia tiup padam. Ruangan menjadi gelap gulita, hanya disinari kilat sesekali.
Hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik kecil. Sunyi kembali memeluk desa. Tapi kali ini, Pak Aryo tersenyum. Di dalam sunyi itu, ia menemukan damai.
Catatan Dapur Rekaman (Behind The Scene)
Lagu "Rintik Sunyi" diproduksi menggunakan teknologi Generatif AI dengan sentuhan aransemen Dangdut Klasik Melayu.
Vibe: Kami sengaja menghadirkan nuansa Vintage 90s dengan vokal yang sengau dan cengkok tebal untuk memperkuat rasa nostalgia.
Instrumen: Perhatikan suara Tabla yang berat dan sisipan Suling Bambu yang muncul malu-malu namun menyayat hati. Itu adalah representasi dari suara hati Pak Aryo yang lirih.
Semoga lagu dan cerita ini bisa menemani sore sendu teman-teman semua.
Salam Satu Frekuensi, Babeh - CROJA Project
(P.S. Suka dengan nuansa visual dan musik di atas? Ingin tahu bagaimana cara saya membuatnya menggunakan teknologi AI? Intip rahasia dapurnya di subdomain teknis kami: ai.crojaproject.com)
BAGIKAN ARTIKEL INI:
Komentar ()
Komentar
Posting Komentar